Rekam Jejak Pemberontakan DI/TII Jawa Barat yang Menggemparkan

Anams.id – Pemberontakan DI/TII Jawa Barat merupakan salah satu konflik bersenjata di Indonesia setelah proklamasi kemerdekaan pada 1945. Pemberontakan tersebut dilakukan oleh kelompok Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) dengan tujuan membentuk negara Islam di Indonesia. Pada artikel ini, kita akan membahas secara lengkap mengenai pemberontakan DI/TII Jawa Barat, termasuk sejarah, tujuan, tokoh, dan upaya penumpasannya.

Sejarah Pemberontakan DI/TII Jawa Barat

Pemberontakan DI/TII di Jawa Barat bermula dari ketidakpuasan kelompok Islam terhadap kebijakan Presiden Soekarno yang dianggap terlalu lunak terhadap pihak Belanda. Setelah proklamasi kemerdekaan pada 1945, Belanda mencoba untuk kembali ke Indonesia dan menimbulkan berbagai masalah yang merugikan Indonesia, seperti Agresi Militer Belanda 1 dan 2. Kebijakan pemerintah Indonesia untuk mengatasi permasalahan tersebut melalui perjanjian damai, seperti perjanjian Renville, dianggap sangat fatal oleh kelompok DI/TII.

Awalnya, kelompok DI/TII ikut terlibat dalam revolusi fisik pasca-proklamasi kemerdekaan pada tahun 1945. Namun, kelompok tersebut kemudian berbelok arah untuk menentang pemerintahan Republik Indonesia karena kebijakan Soekarno yang dianggap terlalu lunak terhadap Belanda. Kelompok DI/TII di Jawa Barat dipimpin oleh Kartosuwiryo.

Pada tahun 1948, DI/TII Kartosuwiryo mulai melakukan perlawanan terhadap pemerintah Republik Indonesia. Ini disebabkan oleh perjanjian Renville yang menyatakan bahwa pasukan TNI harus ditarik dari daerah Jawa Barat yang berada di belakang garis demarkasi van Mook. Namun, kelompok DI/TII menolak untuk berhijrah dan membentuk Gerakan Darul Islam pada bulan Maret 1948.

Kartosuwiryo kemudian menyatakan berdirinya Negara Islam Indonesia (NII) pada tanggal 7 Agustus 1949. Dalam masa Revolusi TNI yang kembali dari Yogyakarta dengan long march terpaksa menghadapi dua musuh sekaligus, yaitu pihak Belanda dan DI/TII.

Baca Juga :   Pengertian Planet

Tujuan Pemberontakan DI/TII

Tujuan utama pemberontakan DI/TII adalah membentuk negara Islam Indonesia berdasarkan hukum syariah. Kelompok tersebut ingin Indonesia diatur oleh hukum Islam dan bukan hukum yang dibuat oleh manusia.

Tokoh Pemberontakan DI/TII Jawa Barat dan Jawa Tengah

Kartosuwiryo, atau lengkapnya Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, adalah tokoh utama yang terlibat dalam pemberontakan DI/TII di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Pria kelahiran Cepu, Jawa Tengah pada tanggal 7 Januari 1905 ini memimpin gerakan Darul Islam yang bertujuan melawan pemerintahan Indonesia.

Kartosuwiryo merupakan seorang tokoh Islam Indonesia yang pernah menjadi sekretaris jenderal Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII). Ia dikenal sebagai sahabat baik dari Amir Sjarifuddin dan Sugondo Djojopuspito ketika peristiwa Sumpah Pemuda. Namun, Kartosuwiryo memiliki pandangan yang berbeda dengan kedua tokoh tersebut dalam hal dasar negara.

Selama masa kemerdekaan, Amir Sjarifuddin pernah menawarkan jabatan menteri kepada Kartosuwiryo. Namun, tawaran tersebut ditolak oleh Kartosuwiryo karena dasar negara yang diusung Indonesia bukanlah Islam.

Penumpasan Pemberontakan DI/TII di Jawa Barat dan Jawa Tengah: Operasi Pagar Betis

Pemberontakan DI/TII merupakan salah satu gerakan yang menentang pemerintahan Indonesia setelah kemerdekaan. Pemerintah RI telah berupaya memadamkan gerakan tersebut, namun belum berhasil hingga tahun 1960. Pada tahun tersebut, dilakukan operasi penumpasan yang sistematis dengan nama operasi pagar betis oleh Kodam Siliwangi di bawah pimpinan Pangdam Ibrahim Ajie.

Operasi pagar betis merupakan upaya pengepungan oleh kekuatan militer bersama rakyat. Dalam operasi ini, Kodam Siliwangi melakukan penumpasan secara sistematis terhadap gerakan DI/TII. Operasi ini berhasil membuat daerah kekuasaan DI/TII semakin lama semakin sempit.

Pada tanggal 2 Juni 1962, pemimpin Darul Islam yakni Kartosuwiryo berhasil ditangkap oleh prajurit-prajurit Siliwangi di bawah pimpinan Letnan Suhanda. Pusat perlawanan DI/TII berada di daerah Parahyangan, namun sebelum itu awal mulanya berasal dari wilayah Jawa Tengah yang kemudian menyebar ke Jawa Barat.

Baca Juga :   Suku Zulu Adalah

Begitulah kejadian Pemberontakan DI/TII Jawa Barat yang berlangsung selama tujuh tahun, dari tahun 1948 hingga 1955. Konflik yang melibatkan pemerintah, tentara, dan kelompok DI/TII telah menyebabkan kerugian besar bagi kedua belah pihak.

Para pemberontak yang terus menerus melakukan serangan terhadap tentara dan pemerintah, akhirnya berhasil dikuasai dan dimusnahkan oleh pemerintah melalui Operasi Tumpas pada tahun 1955. Walau perjuangan itu telah berakhir, namun jejak-jejak peristiwa tersebut masih terasa hingga saat ini.

Peristiwa tersebut menjadi pelajaran penting bagi kita untuk senantiasa memelihara dan memperjuangkan perdamaian serta menjaga keutuhan negara kesatuan Republik Indonesia.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *