Manfaat Usus Besar

ANAMS.ID – Kali ini kita akan membahas terkait “Manfaat Usus Besar”

Artikel ini bertujuan untuk memberikan informasi terkait “Manfaat Usus Besar” agar supaya bermanfaat bagi pembaca

Simak artikel “Manfaat Usus Besar” dengan baik untuk mendapatkan keseluruhan insightnya.

Manfaat Usus Besar

Usus besar kanan bertanggung jawab atas hampir semua penyerapan air dan elektrolit tubuh, yang dianggap sebagai fungsi usus besar yang paling signifikan. Kolon sigmoid berperan sebagai penampung, menahan massa feses yang sudah kering sampai proses defekasi dapat berlangsung. Fungsi ini memungkinkan usus besar untuk melakukan fungsi normalnya. Setiap hari, usus besar mengambil sekitar 800 mililiter air. Usus besar, secara umum, memiliki tingkat pergerakan yang lamban. Tindakan mengocok, yang dikenal sebagai hausturing, adalah jenis buang air besar yang paling umum. Seiring waktu, haustura, juga dikenal sebagai kantong, akan mengembang, dan otot-otot melingkar akan berkontraksi untuk mengosongkannya. Gerakan ini tidak progresif; sebaliknya, itu menyebabkan isi saluran pencernaan bergerak maju mundur dan bergoyang, yang menyediakan waktu yang cukup untuk penyerapan berlangsung.

Gerakan pencampuran yang dikenal sebagai “Haustrasi.”
Tindakan segmentasi disertai dengan penyempitan melingkar yang cukup besar dari usus besar. Jika penyempitan lebih dari 2,5 cm, otot sirkular akan berkontraksi, terkadang membuat lumen sangat kecil sehingga praktis terhambat. Pada saat yang sama, otot-otot yang membentang sepanjang usus besar, yang disebut taenia coli, akan mengencang. Karena kontraksi yang terkoordinasi, bagian usus yang tidak dirangsang menjadi menonjol (haustrasi). Setiap haustrasi mencapai intensitas maksimumnya dalam waktu sekitar tiga puluh detik, dan kemudian berangsur-angsur menghilang selama enam puluh detik berikutnya, kadang-kadang bahkan sangat lambat. Hal ini terutama berlaku untuk sekum dan kolon asendens, yang berarti mendorong ke depan menghasilkan bahan yang sangat sedikit. Oleh karena itu, bahan feses di usus besar secara perlahan diaduk dan dicampur sehingga bahan feses secara bertahap bersentuhan dengan permukaan mukosa usus besar. Akibatnya, cairan dan zat terlarut diserap secara progresif sampai ada 80-200 ml feses yang dikeluarkan setiap hari. Karena itu, bahan feses di usus besar secara bertahap bersentuhan dengan permukaan mukosa

Gerakan Mempromosikan “Gerakan Massa”
Banyak penekanan di sekum dan kolon asendens sebagai akibat dari kontraksi haustra yang bertahap tetapi terus menerus; saat ini chyme sudah mencapai kondisi berupa slurry semi padat. Dari sekum ke sigmoid, gerakan massa mengambil alih pekerjaan propelan tubuh selama beberapa menit setiap kali, dengan sebagian besar gerakan terjadi antara satu dan tiga kali setiap hari. Selain itu, ada kriptus lieberkuhn di usus besar tetapi tidak ada vili. membuat lendir (sel epitel jarang mengandung enzim). Ion bikarbonat ditemukan dalam mukus, dan kadarnya dikendalikan oleh sensasi taktil yang ditransmisikan langsung dari sel epitel serta oleh refleks saraf lokal yang berjalan ke sel mukus dari Crista Lieberkuhn. Stimulasi adalah kata benda yang mengacu pada daerah panggul dari sumsum tulang belakang, yang bertanggung jawab untuk membawa persarafan parasimpatis ke setengah distal hingga dua pertiga dari usus besar. Lendir tidak hanya menawarkan media lengket untuk perlekatan bahan tinja satu sama lain, tetapi juga berperan dalam melindungi dinding kolon dari ekskoriasi. Ini adalah salah satu dari banyak fungsinya. Selain itu, lendir melindungi dinding usus dari aktivitas bakteri yang terjadi dalam tinja. Ion bikarbonat yang dihasilkan ditukar dengan ion klorida, yang menghasilkan produksi ion bikarbonat basa yang menetralkan asam yang ada dalam tinja. Dalam hal volume cairan yang dikeluarkan, hanya sekitar 100 mililiter cairan yang hilang melalui feses setiap hari. Pasien yang menderita diare berat dapat menghasilkan lebih dari beberapa liter cairan setiap hari.

Baca Juga :   Kondisi yang baik dan manfaat terumbu karang

Penyerapan di Bagian Bawah Usus Besar
Pada individu yang sehat, sekitar 1500 ml chyme akan melewati katup ileocecal. Sebagian besar air dan elektrolit yang ada di kimus akan diserap oleh usus besar, dan sekitar 100 ml akan dikeluarkan bersama feses. Sebagian besar penyerapan terjadi di tengah kolon proksimal, juga dikenal sebagai kolon penyerap. Daerah distal usus besar adalah tempat produk limbah disimpan sebelum dikeluarkan pada saat yang tepat (penyimpanan usus besar).

Kapasitas Penyerapan pada Tingkat Tertinggi di Usus

Jika jumlah cairan yang masuk ke dalam katup ileosekal atau melalui sekret usus besar lebih besar dari jumlah maksimum yang dapat diserap usus besar dalam sehari, yaitu antara 5 sampai 8 liter cairan dan elektrolit, maka akan terjadi diare.

Di usus besar, bakteri melakukan fungsinya.
Bahkan dalam keadaan normal, usus besar penyerap adalah rumah bagi sejumlah besar mikroorganisme, terutama basil kolon.
Bakteri ini memiliki kemampuan untuk memecah selulosa, yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber nutrisi tambahan, serta vitamin.

Komposisi
Umumnya terdiri dari 3/4 air dan /4 padatan (30% bakteri, 10-20% lemak, 10-20% anorganik, 2-3% protein, 30% serat makanan yang tidak tercerna dan bahan kering dari pencernaan (pigmen empedu). , sel epitel dibuang).
Warna coklat pada feses dihasilkan oleh stercobilin dan urobilin yang berasal dari bilirubin yang merupakan akibat dari aktivitas bakteri.
Jika empedu tidak dapat mencapai usus, warna feses akan berubah menjadi putih (acholic stool).
Asam organik yang dihasilkan dari karbohidrat oleh bakteri menyebabkan feses menjadi asam (pH 5,0-7,0). (pH 5.0-7.0).
Bau feses dihasilkan oleh produk kerja bakteri (indole, mercaptan, skatole, hidrogen sulfida) (indole, mercaptan, skatole, hidrogen sulfida).
Komposisi feses pada dasarnya tidak dipengaruhi oleh fluktuasi diet karena sebagian besar fraksi massa feses tidak berasal dari makanan.
Inilah alasan mengapa meskipun puasa jangka panjang, sejumlah besar kotoran masih dikeluarkan.

feses

Sebagian besar waktu, rektum tidak mengandung feses, hal ini karena adanya sfingter yang lemah ±20 cm dari anus di persimpangan antara kolon sigmoid dan rektum dan sudut lancip yang meningkatkan resistensi terhadap pengisian rektum.
Jika terjadi pergerakan massa pada rektum, konstriksi rektum dan relaksasi sfingter ani akan timbul kebutuhan untuk defekasi.
Propulsi massa yang terus menerus akan dihambat oleh konstriksi tonik 1) sfingter ani interna; 2) sfingter anal eksternal
Refleks buang air besar.
Dorongan untuk buang air besar awalnya muncul ketika tekanan rektal mencapai 18 mmHg dan ketika mencapai 55 mmHg, sfingter ani interna dan eksterna berelaksasi dan isi feses terdorong keluar.
Refleks intrinsik, yang dimediasi oleh sistem saraf enterik di dinding rektum, dianggap sebagai salah satu refleks buang air besar.

Ketika feses mencapai rektum, distensi dinding rektum menyebabkan impuls aferen menyebar melintasi pleksus mienterikus. Sinyal-sinyal ini menciptakan gelombang peristaltik di kolon desendens, sigmoid, dan rektum, yang kemudian mendorong feses ke arah anus.
Sfingter ani interna direlaksasi oleh sinyal penghambatan dari pleksus mienterikus saat gelombang peristaltik mendekati anus, dan sfingter ani eksterna secara sadar mengendur, yang mengakibatkan defekasi.
Ketika rektum diregangkan, akibatnya sfingter berelaksasi.
Sebelum tekanan yang melemaskan sfingter ani eksterna tercapai, defekasi volunter dapat dilakukan dengan merelaksasikan sfingter eksterna secara sengaja dan mengencangkan otot-otot perut. Ini dapat dilakukan sebelum tekanan yang melemaskan sfingter ani eksternal tercapai (mengejan).
Oleh karena itu, buang air besar adalah refleks tulang belakang yang mungkin secara sadar dihentikan dengan mempertahankan kontraksi sfingter eksternal atau mengendurkan sfingter sambil secara bersamaan mengencangkan otot perut.***