Kehidupan dan Kebudayaan Suku Aborigin
Kehidupan dan Kebudayaan Suku Aborigin

Kehidupan dan Kebudayaan Suku Aborigin

Kehidupan Suku Aborigin

Mereka hidup dengan metode mencari serta mengumpulkan santapan( food gathering) serta ini telah dipertahankan sejak beribu- ribu tahun saat sebelum kehadiran bangsa kulit putih. Mereka tidak memahami pertanian, sebab, disamping aspek area alam yang kurang menunjang buat diolah jadi lahan pertanian, juga diakibatkan oleh tidak terdapatnya bibit tumbuhan buat pertanian. Realitas ini nyatanya dapat mereka pertahankan dalam waktu yang lama, sebab metode ini mereka anggap sangat effesien dalam memakai alam selaku sumber kehidupan.

Orang Aborigin menyangka diri mereka merupakan bahagian dari alam serta seluruh benda- benda alam semacam fauna serta tumbuh- tumbuhan, bagi mereka, memiliki watak yang sama dengan manusia. Oleh karenanya dalam tradisi Aborigin sangat dipentingkan melindungi keharmonisan alam. Dalam mengumpulkan bahan santapan serta mencari mereka senantiasa melindungi penyeimbang alam dan sanggup memelihara sumber kehidupan. Sehingga dengan demikian persediaan sumber itu senantiasa terjamin.

Bagi tradisi orang- orang Aborigin, tanah merupakan ialah bahagian yang sangat berarti dalam kehidupan mereka. Tanah merupakan sesuatu yang bertabiat sakral, pemilikan atas tanah merupakan absolut buat melindungi keharmonisan jagad raya. Saat sebelum kehadiran orang Eropa, nyaris seluruh daratan Australia sudah dipatok jadi wilayah- wilayah suci tiap suku Aborigin.

Daerah serta batas- batasnya( border) mereka ingat dengan baik lewat balada- balada, sebab mereka memanglah tidak melaksanakan pencatatan tertulis buat itu. Di wilayah- wilayah seperti itu mereka melaksanakan seluruh aktivitas mulai dari mencari, mengumpul bahan santapan serta melakukan upacara- upacara keagamaan. Tiap border umumnya didiami oleh satu suku Aborigin yang masing masing mempunyai spesifikasi budaya serta bahasa yang berbeda- beda.

Kebudayaan Suku Aborigin

Baca Juga :   Peninggalan Kerajaan Gowa serta Tallo

Etnik Aborigin, pemukim daratan Australia, pada sekitar abad- abad kehadiran bangsa kulit putih( abad ke 18), diperkirakan berjumlah 300. 000 orang. Mereka mendiami pantai- pantai utara serta timur dan lembah sungai Murray serta sebahagian kecil yang lain terletak di Tasmania( Kitley, 1994; 362). Tidak terdapat uraian yang lebih tentu tentang kapan awal kali orang- orang Aborigin mulai menempati daratan ini, tetapi yang bisa ditentukan merupakan kalau mereka, sepanjang yang bisa dikenal, ialah pendatang sangat dini di Australia yang tiba dari belahan utara daratan ini.

Etnik Aborigin yang hidup di Australia ini meningkatkan kebudayaan sendiri bersumber pada keadaan area alam di mana mereka hidup. Mereka hidup dengan metode mencari serta mengumpulkan santapan( food gathering) serta ini telah dipertahankan sejak beribu- ribu tahun saat sebelum kehadiran bangsa kulit putih. Mereka tidak memahami pertanian, sebab, disamping aspek area alam yang kurang menunjang buat diolah jadi lahan pertanian, pula diakibatkan oleh tidak terdapatnya bibit tumbuhan buat pertanian. Realitas ini nyatanya bisa mereka pertahankan dalam waktu yang lama, sebab metode ini mereka anggap sangat effesien dalam menggunakan alam selaku sumber kehidupan.

Orang Aborigin menyangka diri mereka merupakan bahagian dari alam serta seluruh benda- benda alam semacam fauna serta tumbuh- tumbuhan, bagi mereka, memiliki watak yang sama dengan manusia. Oleh karenanya dalam tradisi Aborigin sangat dipentingkan melindungi keharmonisan alam. Dalam mengumpulkan bahan santapan serta mencari mereka senantiasa melindungi penyeimbang alam dan sanggup memelihara sumber kehidupan. Sehingga dengan demikian persediaan sumber itu senantiasa terjamin.

Bagi tradisi orang- orang Aborigin, tanah merupakan ialah bahagian yang sangat berarti dalam kehidupan mereka. Tanah merupakan sesuatu yang bertabiat sakral, pemilikan atas tanah merupakan absolut buat melindungi keharmonisan jagad raya. Saat sebelum kehadiran orang Eropa, nyaris seluruh daratan Australia sudah dipatok jadi wilayah- wilayah suci tiap suku Aborigin.

Baca Juga :   Mobilitas Sosial Adalah

Daerah serta batas- batasnya( border) mereka ingat dengan baik lewat balada- balada, sebab mereka memanglah tidak melaksanakan pencatatan tertulis buat itu. Di wilayah- wilayah seperti itu mereka melaksanakan seluruh aktivitas mulai dari mencari, mengumpul bahan santapan serta melakukan upacara- upacara keagamaan. Tiap border umumnya didiami oleh satu suku Aborigin yang masing masing mempunyai spesifikasi budaya serta bahasa yang berbeda- beda.

Orang- orang Aborigin mempunyai sistem keyakinan“ dream time”. Mereka yakin kepada arwah nenek moyang serta yakin kepada kekuatan- kekuatan magic yang dipunyai oleh alam paling utama fauna. Disamping itu mereka pula diketahui selaku pembentuk obat yang diolah dari sumber- sumber alam. Hidup orang- orang Aborigin diketahui selaku serba upacara.

Leave a Reply

Your email address will not be published.