Proses Terbentuknya Plasenta dan Bagaimana Janin Mendapatkan Nutrisi dari Ibu

anams.id – Halo teman-teman, kali ini kita bakal bahas tentang plasenta nih. Mungkin ada yang udah sering denger kata plasenta, tapi masih bingung tentang fungsi dan cara kerjanya. Skuy langsung aja kita bahas habis tuntas disini agar kita lebih banyak paham dan mengerti tentang apapun ilmu yang bisa kita pelajari banyak pengetahuan banyak rezeki yah.

Plasenta adalah bagian penting dalam perkembangan janin dalam kandungan. Plasenta berfungsi sebagai penghubung antara janin dan ibu serta memberikan nutrisi serta oksigen yang dibutuhkan oleh janin selama perkembangannya.

Pada artikel ini, akan dibahas mengenai fungsi plasenta, struktur dan bagian plasenta, proses terbentuknya plasenta, selaput janin, cairan amnion, kelainan jumlah cairan amnion, solulusio plasenta, dan frekuensi solusio plasenta.

Fungsi plasenta

Fungsi plasenta “ari-ari” atau plasenta “dewasa” adalah untuk memberikan nutrisi dan oksigen yang dibutuhkan oleh janin selama berada di dalam kandungan. Plasenta juga berfungsi sebagai filter yang melindungi janin dari racun atau zat-zat berbahaya yang dapat membahayakan perkembangannya.

Struktur dan Bagian

Plasenta “ari-ari” terdiri dari beberapa struktur dan bagian, antara lain korion, amnion, tali pusat, dan vili. Korion adalah lapisan luar dari plasenta, sedangkan amnion adalah selaput yang melindungi janin dan mengandung cairan amnion. Tali pusat menghubungkan janin dengan plasenta, dan vili adalah bagian yang berfungsi untuk menyerap nutrisi dari ibu dan mengeluarkan zat-zat sisa dari janin.

Proses terbentuknya plasenta dimulai pada awal kehamilan, ketika sel telur yang telah dibuahi oleh sperma menempel pada dinding rahim. Selanjutnya, korion dan amnion akan terbentuk dan membentuk lapisan pelindung untuk janin dan plasenta. Setelah itu, vili akan tumbuh dari korion dan menyebar ke seluruh dinding rahim untuk menyerap nutrisi dari ibu.

Baca Juga :   Adaptasi Morfologi, Kemampuan Makhluk Hidup Beradaptasi dengan Lingkungan

Selaput janin terdiri dari amnion dan korion. Amnion adalah selaput yang melindungi janin dan mengandung cairan amnion, sedangkan korion adalah lapisan luar dari plasenta. Cairan amnion berfungsi untuk melindungi janin dari benturan dan membantu menjaga suhu tubuh janin.

Kelainan jumlah cairan amnion

Kelainan jumlah cairan amnion dapat terjadi ketika terlalu banyak atau terlalu sedikit cairan amnion yang diproduksi oleh tubuh ibu. Terlalu banyak cairan amnion disebut sebagai hidramnion, sedangkan terlalu sedikit cairan amnion disebut sebagai oligohidramnion. Kondisi ini dapat menyebabkan komplikasi pada kehamilan seperti persalinan prematur atau kelahiran bayi dengan berat badan rendah.

Solulusio plasenta

Solulusio plasenta adalah kondisi ketika plasenta terlepas dari dinding rahim sebelum bayi lahir. Kondisi ini dapat menyebabkan kekurangan oksigen dan nutrisi untuk janin, serta dapat mengancam nyawa ibu dan bayi. Frekuensi solusio plasenta biasanya terjadi pada akhir kehamilan atau selama persalinan.

Jadi, plasenta merupakan bagian penting dalam perkembangan janin dalam kandungan. Fungsi plasenta adalah untuk memberikan nutrisi dan oksigen yang dibutuhkan oleh janin selama berada di dalam kandungan. Plasenta terdiri dari beberapa struktur dan bagian, antara lain korion, amnion, tali pusat, dan vili.

Proses terbentuknya plasenta dimulai pada awal kehamilan dan melalui beberapa tahap. Selaput janin terdiri dari amnion dan korion, sementara cairan amnion berfungsi untuk melindungi janin dari benturan dan menjaga suhu tubuh janin.

Kelainan jumlah cairan amnion dan solulusio plasenta merupakan kondisi yang memerlukan penanganan medis yang serius. Oleh karena itu, penting bagi ibu hamil untuk memperhatikan kesehatannya dan melakukan pemeriksaan secara rutin untuk memastikan perkembangan janin berjalan dengan baik.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *