Pengertian Ibadah

Anams.id – Kali ini kita akan membahas mengenai ibadah: Definisi, Hakikat, Tujuan, dan jenis ibadah.

Definisi ibadah

Menurut bahasa, kata ibadah berarti patuh (al-tha’ah) dan tunduk (al-khudlu). Ubudiya berarti ketundukan dan merendahkan diri. Menurut al-Azhari, kata ibadah tidak bisa merujuk pada apa pun selain penyerahan diri kepada Allah.

Ibadah adalah bahasa Arab, dari akar kata عَبْدٌا-عِبَادَةً عَبِدَ-يَعْبُدُ- yang berarti taat, tunduk, patuh, merendahkan diri (kepada Allah)Kesemua pengertian itu mempunyai makna yang berdekatan.

Pengertian ibadah secara terminologis menurut ulama tauhid, dan hadits ibadah adalah:

تَوْحِدُ اللهِ وَتَعْظِمُهُ غَا يَةَ التَّعْظِيْمِ مَعَ التَّذَ لُّلِ وَالْخُضُوْعِ لَهُ

“Mengesakan dan mengagungkan Allah sepenuhnya serta menghinakan diri dan menundukkan jiwa kepadanya.”

Para ahli di bidang akhlak mendefinisikan ibadah sebagai:

الْعَمَلُ بِالطَّا عَا تِ الْبَدَ نِيَّةِ وَالْقِيَامُ بِالشَّرَاءِِعِ

“Mengerjakan segala bentuk kataatan badaniyah dan menyelenggarakan segala syariat (hukum).”

Ulama tasawuf mendefinisikan ibadah sebagai berikut:

فِعْلُ الْمُكَلَّفِ عَلَى خِلاَفٍ هُوَ نَفْسِهِ تَعْظِيْمًا لِرَبِّهِ

“Pekerjaan seorang mukallaf yang berlawanan dengan keinginan nafsunya untuk membesarkan Tuhannya.”

Menurut ahli fiqih ibadah adalah :

مَا إِبْتِغَاءًلِوَجْهِ اللهِ وَطَلَبًا لِثََوْابِهِ فِى اْلاَخِرَةِ

“Segala bentuk ketaatan yang engkau kerjakan untuk mencapai keridaan Allah SWT dan mengharapkan pahala-Nya di akhirat.”

Menurut Jumhur Ulama :

الْعِبَادَةُ هِىَ اِسْمٌ جَامِعٌ لِمَا يُحِبُّهُ اللهُ وَيَرْضَاهُ قَوْلاً كاَ نَ إَوْ فِعْلاً جَلِيًّا كاَ نَ إَوْ خَفِيًّا تَعْظِيْمًا لَهُ وَ طَلَبًا لِثَوَابِهِ

“Ibadah itu yang mencakup segala perbuatan yang disukai dan diridai oleh Allah SWT , baik berupa perkataan maupun perbuatan, baik terang-terangan maupun tersembunyi dalam rangka mengagungkan Allah SWT dan mengharapkan pahala-Nya.”

Hakikat ibadah

Dalam hukum Islam, ibadah memiliki dua unsur. Yaitu ketaatan dan kecintaan yang paling dalam kepada Allah SWT. Elemen tertinggi adalah ketaatan, dan cinta adalah praktik ibadah. Selain itu, ibadah juga termasuk unsur kehinaan. Artinya, kehinaan yang paling rendah di hadapan Allah SWT. Ibadah yang pertama adalah “hubungan” hati dengan orang yang dicintai, mencurahkan isi hati, meresap, mengasyikkan, dan akhirnya mencapai puncak cinta kepada Allah SWT.

Seseorang yang tunduk pada orang lain dan memiliki unsur kebencian tidak disebut “Avid (penyembah).” Sama seperti mereka yang mencintai anak-anak dan sahabat, begitu juga mereka yang mencintai sesuatu tetapi tidak menaatinya. Cinta yang sempurna adalah Allah SWT. Cinta yang sempurna untuk apapun selain Allah adalah kesia-siaan.

Secara akhlak dan pemahaman, Yusuf Kaldawi menegaskan bahwa ibadah merupakan kewajiban dari Allah SWT yang diturunkan oleh para rasul berupa perintah dan larangan. Kewajiban timbul dari lubuk hati orang-orang yang mencintai Allah SWT.

Manusia ditakdirkan menjadi makhluk yang memiliki kelebihan dibandingkan makhluk lainnya (Q.S At Tiin). Faktanya, manusia tidak selalu menghasilkan akal sehat, dan karena sering didorong oleh nafsu, mereka sering terjerumus ke dalam apa yang disebut dehumanisasi, sebuah proses yang merongrong, kehilangan, atau merendahkan nilai-nilai kemanusiaan. . Di sinilah manusia membutuhkan agama.

Baca Juga :   Negara Pelopor Penjelajahan Samudra

Melalui agama, kehidupan manusia menjadi bermakna. Makna agama terletak pada fungsinya sebagai kontrol moral manusia. Agama, melalui ajarannya, menginstruksikan manusia untuk selalu waspada dan menguasai dirinya. Kesadaran diri dan kontrol dalam diri manusia adalah inti dari agama dan ibadah. Ibadah (pengabdian) kepada Tuhan mengendalikan kehidupan manusia. Setiap saat dan dalam keadaan apapun, manusia harus selalu sadar menjadi hamba Allah dan mampu mengendalikan dirinya. Oleh karena itu, setiap sikap, perkataan, dan perbuatan selalu dalam kendali Tuhan.

Tujuan ibadah

Manusia, bahkan seluruh mahluk yang berkehendak dan berperasaan, adalah hamba-hamba Allah. Hamba sebagaimana yang dikemukakan diatas adalah mahluk yang dimiliki. Kepemilikan Allah atas hamba-Nya adalah kepemilikan mutklak dan sempurna, oleh karena itu mahluk tidak dapat berdiri sendiri dalam kehidupan dan aktivitasnya kecuali dalam hal yang oleh Alah swt.

Prinsip Prinsip Ibadah

  1. Niat lillahi ta’ala
  2. Ikhlas
  3. Tidak menggunakan perantara (washilah)
  4. Dilakukan sesuai dengan tuntunan al-Qur’an dan Sunnah
  5. Seimbang antara dunia akherat
  6. Tidak berlebih-lebihan
  7. Mudah (bukan meremehkan) danMeringankan Bukan Mempersulit

Jenis – Jenis Ibadah

1. Ibadah Mahdhah

artinya penghambaan yang murni hanya merupakan hubungan antara hamba dengan Allah secara langsung.

2. Ibadah Ghairu Mahdhah

(tidak murni semata hubungan dengan Allah) yaitu ibadah yang di samping sebagai hubungan hamba dengan Allah juga merupakan hubungan atau interaksi antara hamba dengan makhluk lainnya

Demikian artikel mengenai ibadah: Definisi, Hakikat, Tujuan, dan jenis ibadah.***