Penerapan Kesetimbangan Benda Terapung

ANAMS.ID – Kali ini kita akan membahas terkait “Penerapan Kesetimbangan Benda Terapung”
Artikel ini bertujuan untuk memberikan informasi terkait “Penerapan Kesetimbangan Benda Terapung” agar supaya bermanfaat bagi pembaca
Simak artikel “Penerapan Kesetimbangan Benda Terapung” dengan baik untuk mendapatkan keseluruhan insightnya.

Penerapan Kesetimbangan Benda Terapung

Dengan membahas secara singkat prinsip keseimbangan benda terapung, kita dapat menerapkannya pada benda. Aplikasi Floating Object Balance lebih mudah kita temukan yaitu di atas kapal atau kapal. Lambung kapal atau kapal tentunya dibuat dengan perhitungan keseimbangan yang cermat agar kapal aman digunakan saat di laut. Daya apung dan berat kapal harus berada pada garis yang sama sehingga diperoleh momen nol.

Penerapan Kesetimbangan Benda Terapung

Informasi:

Keterangan:

  • a. M.C : metacenter
  • b. c.g : pusat gravitasi
  • c. W: gaya berat benda
  • d. FB : gaya apung
  • e. C.B: pusat/titik apung
  • f. BM: jarak metacenter dan buoyancy

Pada Gambar (a). Kapal berada dalam kesetimbangan asalkan pusat gravitasinya berada di atas pusat daya apung dan dalam garis lurus. Garis lurus yang melalui kedua titik ini disebut sumbu vertikal badan/kapal.

Pada Gambar (B). Jika kapal diputar sedikit, pusat daya apung akan berubah posisinya karena volume fluida yang dipindahkan akan berubah bentuk dan volumenya bersama-sama. Akibatnya gaya gravitasi dan gaya apung akan membentuk momen kopling untuk mengembalikan kapal ke posisi setimbang, dan kapal dapat berada pada posisi sudut kemiringan maksimum tanpa terbalik, namun jika melebihi sudut tersebut dapat tenggelam. Selain itu, benda terapung (kapal) akan kembali ke posisi titik keseimbangannya setelah menerima gangguan dalam batas tertentu. Jika gelombang gangguan terlalu besar, objek tidak akan kembali ke posisi setimbangnya. Keadaan ini digambarkan sebagai keseimbangan yang dapat terjadi pada tingkat gangguan tertentu, tetapi akan menjadi tidak stabil jika terlampaui.

Menurut Archimedes, besarnya gaya apung pada suatu benda sangat dipengaruhi oleh besar kecilnya benda yang dicelupkan ke dalam air. Semakin besar volume benda yang terendam, semakin besar gaya apungnya. Sebuah kapal besar dapat mengapung karena gaya apung yang sangat besar (hal ini disebabkan ukuran kapal yang besar sehingga volume kapal yang terendam sangat besar). Disamping itu gaya apung juga dipengaruhi oleh densitas (densitas atau densitas) fluida. Semakin tinggi massa jenis fluida, semakin besar gaya apung, dan kita tahu bahwa jika massa jenis suatu benda lebih kecil dari massa jenis fluida, benda akan mengapung. Sebaliknya, jika massa jenis benda lebih besar dari massa jenis fluida, benda akan tenggelam.

Baca Juga :   Perbedaan antara impedansi dan resistansi.

Jika kita menganggap sebuah kapal sebagian besar terbuat dari logam, massa jenis besi dan baja = 7800 kg/m3 sedangkan massa jenis air = 1000 kg/m3. Tampaknya massa jenis besi dan baja lebih besar dari massa jenis air tetapi kapal tidak tenggelam dan dapat mengapung. Karena dalam pembuatan kapal, terutama yang terendam air, berlubang. Jadi, jika dibandingkan dengan densitas air, densitas total pembuatan kapal yang sebenarnya jauh lebih kecil. Jadi sebagian besar area pembangunan kapal bawah laut diisi dengan udara. Dengan demikian kapal memiliki cadangan daya apung yang lebih banyak selain “ruang” yang sangat luas disertai lubang yang terisi udara yang membuat “volume” kapal menjadi sangat besar dan mengakibatkan penurunan densitasnya.

Itulah pembahasan terkait artikel Penerapan Kesetimbangan Benda Terapung. semoga bermanfaat***