Jatuh Bangunnya Kerajaan Sriwijaya: Dari Puncak Kekuasaan Hingga Ambles ke Jurang Kegagalan

Anams.id – Hi guys, kali ini kita akan membahas tentang masa kemunduran/keruntuhan Kerajaan Sriwijaya dan faktor-faktor yang menyebabkannya. Kerajaan Sriwijaya, yang pernah menjadi kerajaan maritim terbesar di Asia Tenggara, mengalami kemunduran dan keruntuhan pada abad ke-13.

Berbagai faktor berkontribusi terhadap runtuhnya hegemoni Sriwijaya, termasuk serangan militer, perubahan alam di sekitar Palembang, dan letak geografis yang kurang strategis. Artikel ini akan membahas faktor-faktor tersebut dan akhir dari kehancuran Kerajaan Sriwijaya.

1. Serangan Militer

Sriwijaya mengalami serangan militer dari beberapa kekuatan, termasuk Teguh Dharmawangsa pada tahun 992 dan Colamandala pada tahun 1017 dan 1023-1030. Serangan-serangan ini melemahkan kekuasaan Sriwijaya, dan pada akhirnya, Majapahit menaklukkan Sriwijaya pada tahun 1377 dalam upaya menciptakan kesatuan Nusantara.

2. Perubahan Alam di Sekitar Palembang

Perubahan alam di sekitar Palembang menjadi faktor penting yang menyebabkan kemunduran Sriwijaya. Sungai Musi dan anak sungainya membawa lumpur yang diendapkan di sekitar Palembang, sehingga perahu sulit merapat. Hal ini membuat Palembang semakin jauh dari laut dan kurang strategis sebagai pusat perdagangan nasional dan internasional.

3. Letak Geografis yang Kurang Strategis

Letak geografis yang kurang strategis ini mempengaruhi perkembangan perdagangan Sriwijaya. Sriwijaya tidak dapat bersaing dengan kerajaan-kerajaan lain dalam hal perdagangan internasional karena Sulawesi dan Maluku lebih dekat dengan pusat perdagangan utama di Asia pada saat itu.

Selain itu, kerajaan-kerajaan lain seperti Majapahit dan Singasari juga memiliki kekuatan armada laut yang kuat dan mampu bersaing dalam perdagangan. Kekuatan maritim Majapahit bahkan mampu mengalahkan Sriwijaya pada akhirnya.

4. Kekuatan Militer Terbatas: Penyebab Sriwijaya Kurang Berpengaruh secara Politik

Sriwijaya memang memiliki kekuatan armada laut yang hebat dan mampu menguasai jalur perdagangan di Asia Tenggara pada masa itu. Namun, kekuatan militer Sriwijaya terbatas dalam bidang politik. Sriwijaya tidak memiliki kekuatan militer yang cukup untuk mempertahankan wilayahnya dari serangan kerajaan-kerajaan lain atau untuk memperluas pengaruhnya di wilayah Indonesia.

Baca Juga :   Ekonomi Dunia Pasca Perang Dunia 1: Dari Keterpurukan ke Pemulihan

Meskipun Sriwijaya memiliki kekuatan armada laut yang hebat, kekuatan militer yang terbatas dalam bidang politik membuat Sriwijaya kurang berpengaruh secara politik di wilayah Indonesia. Hal ini mempengaruhi perkembangan dan kejayaan Sriwijaya sebagai kerajaan maritim pada masa itu.

5. Penaklukan oleh Kerajaan Singosari

Kerajaan Singosari akhirnya mampu untuk menundukkan kekuasaan Kerajaan Sriwijaya di Palembang dan Jambi selama ekspedisi Pamalayu pada tahun 1288. Penaklukan ini menandai awal dari keruntuhan Sriwijaya sebagai kekuatan maritim di Asia Tenggara. Setelah penaklukan ini, Singosari mengambil alih jalur perdagangan di Sumatra dan menguasai seluruh wilayah tersebut.

6. Penaklukan oleh Kerajaan Majapahit

Setelah Singosari, Kerajaan Majapahit di Jawa mengambil alih kekuasaan di Sumatra. Pada tahun 1293, Raja ke-4 Hayam Wuruk memberikan tanggung jawab pemerintahan Sumatra kepada Pangeran Adityawarman, seorang peranakan Minang dan Jawa. Namun, pada tahun 1377 terjadi pemberontakan terhadap Majapahit di Sumatra.

7. Munculnya kerajaan-kerajaan besar

Kerajaan Siam di utara yang juga memiliki kepentingan dalam dunia perdagangan. Akhirnya salah satu daerah kekuasaannya yaitu Tanah Genting Kra dikuasai oleh Kerajaan Siam, sehingga Siriwijaya semakin terbenam pada bidang pelayaran dan perdagangan.

8. Terjadinya pengendapan pada Sungai Musi

Pengendapan tersebut sangat berefek bagi Sriwijaya karena akses pelayaran ke Palembang menjadi tertutup. Akses yang sempit membuat Kerajaan Sriwijaya semakin merugi, khususnya pada bidang perdagangan.

9. Masuknya Islam ke Aceh

Para pedagang Arab dan India menyebarkan islam pada sekitar abad ke-13. Lalu disusul dengan pindahnya Kerajaan Pasai yang ada di utara Sumatra pindah menjadi agama Islam.

10. Berakhir menjadi kerajaan kecil

Sejak akhir abad ke-13, Kerajaan Sriwijaya menjadi kerajaan kecil dan wilayahnya terbatas pada daerah Palembang saja. Ironisnya Kerajaan Sriwijaya diluluh lantakan oleh munculnya kembali kekuataan Kerajaan Majapahit di tahun 1377 M.

Baca Juga :   Jelaskan Prinsip Pendidikan Yang Diterapkan Oleh Jepang Di Indonesia

11. Mendirikan Kesultanan Malaka

Pangeran Pramewara yang menjadi pangeran terakhir Sriwijaya mendirikan Kesultanan Malaka di Semenanjung Malaysia pada tahun 1402. Lalu Kesultanan Malaka kemudian menjadi pusat perdagangan yang penting di Asia Tenggara pada abad ke-15 dan ke-16.

Dalam kesimpulan, runtuhnya Kerajaan Sriwijaya pada abad ke-13 tidak terjadi secara tiba-tiba. Perubahan alam di sekitar Palembang, letak geografis yang kurang strategis, serangan militer, dan kekuatan militer yang terbatas semuanya berkontribusi terhadap kehancuran Sriwijaya.

Meskipun Kerajaan Sriwijaya telah lama berlalu, namun warisan sejarahnya masih bisa kita lihat hingga saat ini berupa candi dan prasasti. Kita dapat mempelajari bagaimana Kerajaan Sriwijaya dulu memainkan peran penting dalam perdagangan maritim di Asia Tenggara, serta bagaimana faktor-faktor tertentu mempengaruhi kemunduran dan keruntuhan kerajaan itu.

Sejarah Sriwijaya yang kaya akan terus menjadi bukti penting bagi perkembangan budaya dan perdagangan di masa depan.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *