Habis Gelap Terbitlah Terang: Biografi Singkat RA Kartini

RA Kartini

Anams.id Habis Gelap Terbitlah Terang adalah buku yang memuat kumpulan surat RA Kartini, yang dibukukan oleh J.H Abendonan, Menteri Agama dan Kebudayaan Hindia Belanda. Buku ini diterbitkan pertama kali pada tahun 1911 dengan judul “Door Duisternis tot Licht”, yang berarti “Dari Kegelapan Menuju Cahaya”. Buku ini bisa menjadi referensi untuk mengetahui kisah hidup atau biografi RA Kartini yang lebih lengkap.

Sejarah Buku Habis Gelap Terbitlah Terang

Pada tahun 1922, buku tersebut diterbitkan dalam bahasa Melayu dengan judul populer yang ada hingga sekarang yaitu “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Kemudian, buku ini juga dicetak dalam bahasa Jawa dan Sunda dengan lima bab pembahasan dari 87 surat yang pernah ditulis RA Kartini.

Biografi Singkat RA Kartini

RA Kartini dilahirkan pada tanggal 21 April 1879 di Jepara. Wilayah Jepara pada masa itu berada di bawah kekuasaan Hindia Belanda di Nusantara, yang sekarang masuk dalam wilayah Provinsi Jawa Tengah. RA Kartini mempunyai nama lengkap Raden Adjeng Kartini Djojo Adhiningrat .

Beliau berasal dari keluarga bangsawan, dengan ayahnya RM Sosroningrat sebagai seorang guru agama di Kota Jepara, sedangkan ibunya MA Ngasrih bukan keturunan bangsawan.

Pendidikan RA Kartini

RA Kartini memperoleh pendidikan di Europese Lagere School (ELS), setara dengan sekolah dasar, hingga berusia 12 tahun. Kartini mendapatkan banyak ilmu, termasuk bahasa Belanda yang ia kuasai dengan baik. Namun, saat usianya menginjak 12 tahun, ia harus tinggal di rumah karena dipingit.

Baca Juga :   Melihat Sepak Terjang Para Raja yang Berkuasa di Kerajaan Sriwijaya

Keluarga dan Pernikahan RA Kartini

RA Kartini merupakan anak sulung perempuan tertua dan memiliki saudara kandung dan tiri sebanyak 11 saudara. Pada tanggal 12 November 1903, ia menikah dengan KRM Ario Singgih Djojo Adhiningrat, yang merupakan Bupati Rembang yang pernah memiliki tiga istri. Setelah menikah, Kartini mendirikan sekolah wanita di Rembang yang sekarang digunakan sebagai Gedung Pramuka.

Kematian RA Kartini

Setahun setelah menikah, pada tanggal 13 September 1904, RA Kartini melahirkan anak pertamanya yang diberi nama Soesalit Djojoadhiningrat. Namun, hanya empat hari setelah melahirkan, tepatnya pada tanggal 17 September 1904, ia meninggal dunia. RA Kartini dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.

Perjuangan RA Kartini

Perjuangan RA Kartini dimulai dari larangan ayahnya untuk melanjutkan pendidikan setelah berusia 12 tahun karena dipingit. Ia terpaksa tinggal di rumah, tetapi mulai menulis surat kepada teman-temannya yang bersekolah di Belanda dan mengekspresikan keinginannya untuk belajar. Melalui surat tersebut, Kartini menyampaikan ide-ide revolusioner tentang pentingnya pendidikan bagi perempuan.

Kartini kemudian mendirikan sekolah untuk perempuan Jawa di rumahnya sendiri, dan membantu mengembangkan keterampilan kerajinan tangan. Ia juga mengorganisir kelompok-kelompok perempuan untuk mempromosikan hak-hak perempuan dan kesetaraan gender.

Namun, perjuangan Kartini tidak hanya tentang pendidikan dan kesetaraan gender. Ia juga memperjuangkan hak-hak sosial dan politik bagi rakyat pribumi Indonesia. Kartini memandang bahwa perempuan Indonesia harus bekerja sama dengan laki-laki untuk mencapai kemerdekaan dan kemakmuran bangsa.

Meskipun Kartini wafat pada usia yang masih muda, warisan perjuangannya tetap menginspirasi perempuan Indonesia hingga saat ini. Hari lahirnya, 21 April, diperingati sebagai Hari Kartini, dan menjadi momentum untuk memperingati jasa-jasanya dalam memperjuangkan hak-hak perempuan dan kesetaraan gender di Indonesia.

Baca Juga :   Pengertian Garis Lintang dan Bujur: Apa Saja Fungsinya?

Dalam meneladani perjuangan RA Kartini, sebagai anak muda terutama perempuan, mari terus mengembangkan potensi diri dan menjunjung tinggi pendidikan serta kesetaraan gender. Jadilah perempuan tangguh yang tidak takut untuk berjuang, berbicara, dan bertindak untuk masa depan yang lebih baik. Selalu ingat, seperti yang diucapkan oleh RA Kartini sendiri, bahwa “Hidup adalah perjuangan, dan perjuangan adalah hidup”***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *