Contoh akulturasi

ANAMS.ID – Kali ini kita akan membahas terkait “Contoh akulturasi”

Artikel ini bertujuan untuk memberikan informasi terkait “Contoh akulturasi” agar supaya bermanfaat bagi pembaca

Simak artikel “Contoh akulturasi” dengan baik untuk mendapatkan keseluruhan insightnya.

Contoh akulturasi

  • Kereta Singo Barong (Cirebon)

Kereta Singa Barong yang dibangun pada tahun 1549 merupakan cerminan persahabatan Cirebon dengan bangsa lain. Wajah kereta ini adalah perwujudan dari tiga binatang yang digabungkan menjadi satu binatang, seekor gajah dengan belalainya, mahkota naga dan tubuh binatang buas. Belalai gajah melambangkan persahabatan dengan Hindu India, kepala naga melambangkan persahabatan dengan umat Buddha Cina, dan badan burak, lengkap dengan sayapnya, melambangkan persahabatan dengan Muslim Mesir.

Kereta ini dibuat oleh insinyur kereta api Panembahan Losari dan pematungnya Ki Notoguna dari Kaliwolu. Ukiran pada kereta itu detail dan rumit. Ciri khas budaya ketiga negara sahabat, ukiran wadasan dan megamendung menjadi ciri khas Cirebon, dan warna pahatan merah dan hijau mencerminkan ciri khas Tionghoa. Dalam kereta, tiga budaya (Buddha, Hindu dan Islam) digambarkan sebagai satu dalam trisula di belalai gajah.

  • Keraton Cirebon Kaspohan

Arsitektur dan interior bangunan Istana Kaspohan menggambarkan pengaruh yang berbeda, mulai dari budaya Eropa, Cina, Arab dan lokal yang sudah ada sebelumnya, yaitu Hindu dan Jawa. Semua unsur di atas atau budaya tergabung dalam bangunan Keraton Kaspuhan. Pengaruh Eropa dapat dilihat pada kolom gaya Yunani.

Bangunan bergaya Eropa lainnya berupa gapura pintu masuk berbentuk setengah lingkaran terdapat di Gedung Lawang Sangha (Gerbang 9). Pengaruh lain dari gaya Eropa adalah kolom-kolom pada dinding bangunan, yang membuat dinding lebih menarik dan tidak rata. Gaya bangunan Eropa juga terlihat jelas pada bentuk pintu dan jendela pada bangunan Paviliun Pringgondani, dimana lebar dan tinggi diukur dan digunakan kerai sebagai ventilasi.

Bangsal Prabayasa adalah tempat resepsi VIP. Bangunan ini ditopang oleh tiang-tiang kayu. Tiang Saka dihiasi dengan ornamen lurus yang berasal dari Jawa. Pengaruh arsitektur Hindu Jawa yang paling menonjol adalah Gedung Siti Hinggil yang terletak di depan kompleks keraton. Seluruh bangunan terbuat dari batu bata seperti bangunan candi Hindu pada umumnya.

Kesan bangunan Hindu kuat, terutama pada pintu masuk kompleks yang berupa portal dengan ukuran yang sama atau simetris antara sisi kanan dan kiri seolah-olah terbagi. Dinding kanan dan kiri paviliun Agung dihiasi dengan bintik-bintik tembikar dari Belanda, berukuran kecil 110 x 10 cm berwarna biru (blauwe delft) dan merah-cokelat.

Baca Juga :   pancasila sebagai ideologi nasional

Di tengah diberi sepetak casserole porselen biru. Lukisan pada panel menggambarkan lukisan Cina dengan menggunakan teknik stratigrafi. Secara umum, keraton didominasi warna hijau dan identik dengan simbol-simbol Islam. Warna emas yang digunakan pada beberapa ornamen melambangkan kemewahan dan keagungan, dan warna merah melambangkan kehidupan atau surga. Bangunan Keraton Kasepuhan mencakup perpaduan aspek fungsional dan simbolik serta budaya lokal dan asing. Mencerminkan keragaman corak dan kekayaan budaya bangsa Indonesia.

  • Barongsai

Kesenian Barongsai yang awalnya berasal dari budaya Tionghoa, kini berbudaya bersama dengan kesenian daerah.

Itulah pembahasan terkait Contoh akulturasi. semoga bermanfaat***