Pancasila sebagai Paradigma Reformasi dalam Gerakan Reformasi

ANAMS.ID – Kali ini kita akan membahas terkait “Pancasila sebagai Paradigma Reformasi dalam Gerakan Reformasi”
Artikel ini bertujuan untuk memberikan informasi terkait “Pancasila sebagai Paradigma Reformasi dalam Gerakan Reformasi” agar supaya bermanfaat bagi pembaca
Simak artikel “Pancasila sebagai Paradigma Reformasi dalam Gerakan Reformasi” dengan baik untuk mendapatkan keseluruhan insightnya.

Pancasila sebagai Paradigma Reformasi dalam Gerakan Reformasi

Pada sekitar tahun 1997, hal itu dijalankan dengan tujuan mendasar untuk meningkatkan efisiensi yang dengannya pemerintahan Presiden Suharto melaksanakan tanggung jawabnya. Secara umum disepakati bahwa Suharto cukup efektif dalam membangun pemerintahan yang stabil saat memimpin di bawah panji Orde Baru. Sekarang diterima secara umum bahwa kehidupan sosial-politik yang sehat berfungsi sebagai dasar utama untuk kemajuan di bidang lain. Pemerintah Orde Baru tidak segan-segan melakukan aksi militer untuk memastikan terjadi pergeseran tanggung jawab dan fungsi guna mempertahankan kekuasaannya. Militer yang seharusnya berperan sebagai penjaga negara dan negara menuju kehidupan yang tertib, aman, damai, dan demokratis, justru menjadi pelindung kekuasaan kelompok tertentu.

Militer bukan lagi penyelamat rakyat; sebaliknya, itu telah menjadi musuh bebuyutan dan utama mereka. Sementara itu, hanya segelintir orang Indonesia yang dapat mengambil manfaat dari kemajuan yang dimungkinkan oleh kebijakan pemerintah Orde Baru terhadap pertumbuhan ekonomi. Sementara itu, sebagian besar masyarakat Indonesia hidup di bawah tingkat yang diharapkan dari mereka. Keadaan hidup para siswa yang menyedihkan menjadi pendorong bagi mereka untuk memulai kampanye yang kemudian dikenal sebagai “gerakan reformasi.” Gerakan ini telah berjalan kuat hingga saat ini dalam upaya mewujudkan tujuan yang telah ditetapkan sejalan dengan standar etika bangsa Indonesia. Mahasiswa-mahasiswa ini adalah orang-orang yang meletakkan dasar bagi gerakan tersebut, yang mengakibatkan dampak yang dirasakan di banyak bidang kehidupan lainnya.

Konsekwensi dari gerakan reformasi yang berusaha untuk menciptakan tatanan kehidupan masyarakat yang lebih baik adalah amandemen UUD 1945. Akibatnya, banyak revisi yang dilakukan MPR merupakan upaya penyempurnaan UUD. UUD 1945 agar penyelenggaraan ketatanegaraan Indonesia sehari-hari dapat lebih sesuai dengan cita-cita dasar yang digariskan dalam Pancasila. Di penghujung era Orde Baru, kehidupan sosial politik demokrasi semakin menjauh dari kenyataan. Kepentingan elit politik, baik individu maupun kolektif, berada di atas kepentingan masyarakat umum dan pendidikan politik. Sebab, para elite politik kurang peduli dengan kepentingan rakyat.

Dalam kondisi seperti ini, sangat berdampak negatif bagi masyarakat, terutama bagi masyarakat menengah ke bawah. Indonesia sedang menghadapi krisis di beberapa bidang secara bersamaan. Pancasila, yang merupakan kristalisasi dari prinsip-prinsip esensial yang dianggap benar dan dapat diterima oleh masyarakat Indonesia, dapat digunakan dalam tindakan apa pun sebagai standar atau paradigma. Hal ini menunjukkan bahwa setiap perbuatan (baik ucapan maupun tindakan) yang dilakukan oleh negara dapat dianggap dibenarkan sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip yang digariskan dalam Pancasila. Sejalan dengan pemikiran tersebut, gerakan pembangunan dan reformasi harus menggunakan Pancasila sebagai paradigma pemandunya. Akibatnya, rakyat Indonesia tidak punya alasan untuk berkecil hati, meski tujuan mereka untuk memajukan pertumbuhan negara tidak terwujud.

Baca Juga :   Arti Lambang Pancasila dan Penjelasannya

Itulah penjelasan terkait Pancasila sebagai Paradigma Reformasi dalam Gerakan Reformasi. semoga bermanfaat***